Kamis, Januari 03, 2008

Latar belakang pemikiran

Ketika beberapa keluhan muncul, termasuk diri saya sendiri terhadap gangguan intestinal, saya mulai berpikir, apakah ada korelasi antara nasi yg dimakan dg berbagai keluhan tersebut?
Maka mulailah acara hunting beras dilaksananakan dg berbagai cara utk mencoba reaksi tubuh terhadap beras yg dimakan.
Pengetesan demi pengetesan pun dilakukan dg peralatan yg ada, bahkan sampai tulisan ini diturunkan pun masih belum semua hal saya lakukan utk mendapatkan jawaban terhadap perbedaan dan apa yg menyebabkan adanya gangguan tersebut.
Yg jelas gangguan muncul karena beras tertentu dimakan sebagai nasi, dibanding produk lainnya yg dimakan, yg membuktikan bahwa ada gejala gangguan yg berhubungan dg beras atau nasi yg dimakan.

Saya kemudian mulai dari beras putih yg seyogyanya setiap hari dikonsumsi oleh keluarga.

Beras demi beras putih dibeli utk dicoba dimasak.
Luar biasa memang, kalau cara biasa dg mesin penanak nasi tdk bisa dibedakan ketika proses memasaknya dilakukan, karena praktis beras dicuci lalu dimasukan dg jumlah air tentu, ditutup dan siap dimakan tanpa adanya aroma, melihat permukaan maupun kendala proses yg lain bisa terlihat dg baik, maka saya kemudian menyiasati utk kembali ke cara semi tradisional menanak nasi dg berbagai tahapan seperti:

*Tahapan mencuci beras,
*Membilas dg air yg panas mendidih,
*Mendidihkan beras pra cooking dg air dlm jumlah tertentu, kemudian di
*Roni atau diaron dan baru di
*Kukus agar seluruh beras matang saya lakukan agar bahan2 yg mungkin menyebabkan gangguan intestinal bisa dieliminasi.

Hal lain seperti mencari jenis beras yg lain di mana saja termasuk beras2 yg di label bio pun saya beli satu persatu utk dicoba.

Bertanya pada petugas supermarket pun saya lakukan walau hasilnya kembali membuat saya tercenggang karena jawabannya adalah jenis beras boleh beda tetapi pemutih, pewangi, pemengkilap tetap saja dipakai, karena konsumen lebih tertarik pada beras dg tampilan menarik, putih dan kalau dimasak berwangi pandan dibandingkan beras2 asli yg tdk menggunakan hal2 tersebut.

Yg luar biasanya lagi, beberapa produk olahan yg menggunakan produk dasar beras putih, kemudian ikutan menghasilkan kendala yg sama bagi tubuh.
Repotnya saya tdk punya peralatan deteksi yg memadai dan hanya mengandalkan kendala penciuman, UV, flurosence UV dan kamera serta microscope saja.

Maka baiklah kita lihat apa yg bisa saya lakukan dg peralatan2 tersebut dan apakah menghasilkan sesuatu?

Tidak ada komentar: